Diduga Mark Up..!!! Terkait Pembelian Mobil Ambulance Kampung Notoharjo

78

Lampung Tengah, deteksinewss.com – Diduga pengadaan mobil Ambulance yang dilaksanakan oleh Kepala Kampung Notoharjo menuaii kotroversi di masyarakat. Para awak media bersama Ormas Bidik mendatangi Kantor Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah untuk meminta keterangan kepada camat setempat guna mendapatkan informasi lanjutan mengenai dugaan Mark Uo pada pengadaan mobil ambulance tersebut. kamis (09/06/2022)

Camat Trimurjo Suparyono, SIP.MM

 

Camat Trimurjo Suparyono, SIP,MM saat ditemui diruang kerjanya, mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya pengadaan mobil Ambulance di Kampung Notoharjo tersebut.

“Saya gak tau sama sekali tentang mobil Ambulance itu, yang saya tau hanya waktu louncing mobil ambulance di Kampung Notoharjo itu saja, dan pada waktu louncing mobil ambulance itupun dihadiri oleh Bupati Lamteng Musa Ahmad,” jelas Suparyono.

Lanjut Suparyono,SIP.MM bahwa dirinya tidak pernah tau permasalahan mobil ambulnce yang terjadi dikampung notoharjo dan mobil tersebut sejak dulu memang sudah ada dari camat yang sebelumnya. Kemudian saat ditanya terkait mekanisme pembelian mobil tersebut, Camat Suparyono sama sekali tidak mengetahui. Tekait sudah dirubah atau belum surat menyuratnya mobil pribadi menjadi mobil ambulnce itu ia tidak memgetahui.

Nampak mobil ambulance kampung Notoharjoyang dengan kondisi mesin rusak parah

Nampak mobil ambulance kampung Notoharjo yang dengan kondisi mesin rusak parah

 

”Saya tidak befitu memahami jika merubah mobil pribadi menjadi mobil Ambulance itu ada aturan-aturannya, yang saya tau pembeliannya pakai uang swadaya masyarakat dan kegunaannya juga untuk masyarakat,” ujar Suparyono.

Ditempat terpisah dan waktu yang berbeda, saat awak media dan Ormas BIDIK mengkonfirmasi kepada Kepala Kampung Notoharjo Bambang, terkait pengadaan mobil Ambulance, beliau menerangkan bahwa pembelian mobil bekas merk KIA tahun 2012 diambil dari dana sewa lahan sawit sekitar empat hektar dan sudah dalam musyawarah bersama warga masyarakat dan pamong setempat. Kemudian mobil pribadi tersebut dirubah bentuk aslinya menjadi mobil ambulance.

” Aslinya itu mobil pribadi merk KIA tahun 2012 dan dimodifikasi menjadi mobil ambulance, seperti tampak sekarang ini dan mesinnya sudah di oplos pakai L300 dan sudah digunakan oleh warga masyarakat,” kata Bambang.

Saat disinggung terkait merubah bentuk mobil pribadi menjadi mobil ambulane, itu ada mekanisme dan aturannya, Kakam Bambang mengakui bakwa belum memiliki dasar aturannya, masih dalam tahap persiapan saja.

“Saya belum memiliki dan belum mengetahui bahwa dalam merubah bentuk mobil pribadi menjadi mibil ambulance itu ada mekanisme dan aturan yang berlaku dan di BPKB jdan STNK masih tertera mobil pribadi belum berubah. Kami saat ini akan berkoordinasi dengan instanti terkait,” ungkap Bambang.

Nampak Ketua DPD Ormas Bidik Provinsi Lampung didampingi Ketua DPC Bidik Kota Metro saat kunjungi Kantor Kampung Notoharjo Lamteng

Nampak Ketua DPD Ormas Bidik Provinsi Lampung Dodi Andriyadi didampingi Ketua DPC Bidik Kota Metro R.Sentot Ali Basyah saat kunjungi Kantor Kampung Notoharjo Lamteng

 

Menurut Ketua DPD Ormas Bidik Provinsi Lampung Dodi Andriyadi yang didampingi Ketua DPC Bidik Kota Metro R.Sentot Ali Basyah, bahwa pengadaan mobil ambulance dikampung Notoharjo Kabupaten Lampung Tengah penuh dengan kontroversi,Pasalnya. jenis mobil pribadi merk Kia tahun 2012 itu kondisi saat ini rusah parah, mesin sudah tidak orisinil bahkan tidak layak dijadikan mobil ambulance.

“Dari investigasi dilapangan, kami temukan mobil tersebut berada di bengkel dalam keadaan bongkar mesin, rusak parah dan tidak layak pakai dan mesinnya sudah oplosan. Apalagi ini dipakai untuk ambulance kampung yang mobilisasinya sangat padat,”ungkapnya.

Ditambahkan oleh Dodi, selain tidak layak pakai ,mobil tersebut saat ini sudah berubah bentuk dan fungsinya, tanpa mengindahkan aturan-aturan yang berlaku dan tidak sesuai SOP. Melihat dari kondisi mobil dengan harga pembelian sampai modifikasi yang menghabiskan dana delapan puluh juta inj sangat tidak sesuai.

“Beli mobil bekas sampai memodifikasi jadi mobil Ambulance dengan biaya 80juta, sangat tidak masuk akal, kami menduga ada MARK UP didalam pembelian mobil tersebut. Maka dalam hal ini Kami dari Ormas Bidik akan segera melaporkan ke pihak aparat penegak hukum,” tegas Dodi Andriyadi. (tim/red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *