Walikota Metro Laksanakan Panen Padi Perdana di Purwoasri Metro Utara

57

Metro, deteksinews.com – Walikota Metro Wahdi mengikuti Panen Padi Sawah MT. I Rendeng secara simbolis, di hamparan sawah Kelompok Tani Jaya, Purwoasri Metro Utara, Rabu (24/03/2021).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Metro Hery Wiratno melaporkan bahwa, dari luas lahan sawah di Kota Metro sesuai Kementerian ATR/BPN yaitu 2.948 hektar petani di Kota Metro dapat menanam padi seluas 2.918 hektar (98,98%).

Syukur alhamdulillah, bahwa sampai dengan musim tanam ini, para petani kita telah mampu menanam padi selama 4 kali berturut-turut dengan produktivitas yang cukup baik yaitu berkisar antara 6,4 – 7,2 ton per hektar Gabah Kering Panen,” ucap Hery Wiratno.

Dalam kesmepatan ini, Walikota Metro Wahdi mengatakan, dalam pembangunan nasional sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting dan sangat strategis dalam memajukan perekonomian nasional. Sektor pertanian bukan hanya berperan menyediakan bahan pangan, tetapi juga menjadi penopang keberhasilan pengentasan kemiskinan. Dan sektor pertanian juga menjadi lahan tersedianya lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sebagian besar masyarakat.

“Pemerintah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dalam pembangunan sektor pertanian dan telah berkomitmen untuk mewujudkan Kedaulatan Pangan serta Kesejahteraan Petani. Demikian juga pemerintah daerah telah menempatkan kesejahteraan sebagai hal yang utama, sebagaimana tertuang dalam Visi Kota Metro yaitu Terwujudnya Kota Metro Berpendidikan, Sehat, Sejahtera dan Berbudaya,” ujar Wahdi.

Lanjutnya, Wahdi menambahkan Kota Metro sendiri, dengan luas lahan sawah 2.948 hektar, dengan rata-rata produktivitas 6,4 ton per hektar, maka target produksi pada tahun 2021 diprediksi sekitar 35.545,6 ton gabah kering panen. Pada musim tanam I seluas 2.923 hektar dan musim tanam II seluas 2.631,5 hektar.

“Hal ini dipengaruhi oleh wilayah di Indonesia sebagian besar mengalami kemarau. Dan ditambah saluran irigasi Sekampung Batanghari, mulai pintu air KBH 8A masih mengalami perbaikan, sehingga ada sebaian wilayah yang tidak dapat jatah gadu,” kata Wahdi.

Tambahnya, Wahdi mengungkapkan bahwa, dari kondisi tersebut mengakibatkan sekitar 10% areal persawahan, terutama di wilayah ujung atau yang posisi lahan lebih tinggi mengalami kurangnya aliran air. Sehingga di wilayah tersebut ditanami jagung atau tanaman palawija lainnya.(*)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *